The Corner. ep.1

Lilin – lilin itu dinyalakan, diletakkan di sudut-sudut gelap. Menguar wangi bunga, di kelebat asap bergumul tak bebas. Lelaki itu berbisik, lantas membasuh wajah keriputnya dengan air bersih.Kemudian meninggalkan ruangan itu hanya untuk membaca Koran pagi di kursi goyang.

***

Ambulan-ambulan terparkir di halaman rumah sakit. Semua korban digeladak menuju ruang pemeriksaan. “Edward, kau baik-baik saja?”. Seorang wanita berambut pirang seleher itu tiba-tiba menghentikan ranjang dorong.Lelaki yang terbaring sakit tersebut mengusap darah di sudut mulutnya.Mendesis.

“Maaf, pria ini harus segera ditangani.” Sela sang suster yang membawa ranjang dorong.”Anda bias menunggu di koridor sebelah timur.”

“Ed..”

“Tinggallah, Lorrains”. Edward meringis, mendesis.Menahan sakit pada lebam-lebam tubuuhnya. Lorrains melepaskan genggamnya dari ranjang, menatap kecewa.”Bawa dia.”

Para suster melanjutkan perjalanannya.

“Beri dia perawatan terbaik!” Lorrains berteriak.

***

“Perkelahian di gedung berita New York menggemparkan infortaimant Amerika SErikat.Tersebarnya pendapat – pendapat tentang pemuja iblis memancing organisasi muda ‘Nothing Demons’ untuk menghentikan penyebaran pendapat tersebut.

Nothig Demons yang diketuai oleh Edward Parker, menyrbu gedung dengn cara anarkis.Banyak korban yang ditimbulkan karena hal ini. Nothing Demons mengatakan bahwa di dunia ini tidak ada hal-hal mistis.Semua hanya mitos yang dapat meracuni pikiran masyarakat dunia.

Sedangkan pendapat iblis oleh Mr.Human World menyaakan bahwa iblis termasuk suatu kepercayaan. Yang menibulkan kegencaran….”

Siaran reporter yang panjang lebar di tempat kejadian itu tiba-tiba berhenti.Televisi itu dimatikan,secara cepat. Dengan remot yang digenggam oleh tangan bergetar.

***

Stetoskop dikeluarkan, lingkaran logamnya ditempelkanpada dada lebam. Lalu merobek kaus hitam di tubuh Edward,membukanya lebar. Terlihat corak-corak hitam eunguan di sekitar sisi perut, dan dua lubang bekas tembakan.

“Ini harus segera dioperasi sekarang juga”. Semua suster yang mendengarnya mengangguk.”Ambilkan peralatannya!”.

Meja beroda itu didorong, menyajikan berbagi pisau halus, penjepit, gunting dan alat-alat operasi lainnya.”Nyalakan lampu, segera kita mulai operasinya!”

Salah satu suster hampir menarik syal hitam yang terlilit di lehernya.”APA YANG KAU LAKUKAN?!”.

Suster tadi berjingakat, urung menarik syal dokter di hadapannya.“Nanti bsa mneghalangi anda unntuk bekerja.Mengacaukan keseriusan anda saat mengoperasi,Dokter.”.

Dokter itu melotot “Jangan sekali-kali kau menyentuh syalku!” Lantas menghela napas kesal.”Jika ini ku lepas, bukan keseriusan kerja yang ku dapatkan. MElainkan akan menghancurkan keseriusan kalian semua dalam pandangan ke depan.”

Suster di hadapannya  menelan ludah.

***

Edward membuka mata, silau. “Errghh..”

Melihat sosok wanita berkulit putih, matanya hitam, bibirnya semerah darah. Rambutnya hitam terurai di atas siku.Mengenakan jas putih selutut dengan syal hitam terlilit di lehernya. Tangannya sibuk membenarkan posisi selang infuse.

“Dokter,” Tanya Edward. Wanita itu menoleh, menatap datar sebentar lantas focus terhadap tetesan infuse.”Sekarang hari apa?”

“Selasa”Jawabnya singkat. Tanpa menoleh sedikitpun. Edward terdiam, heran.Seingatnya ia menyerang gedung di hari minggu, lantas terluka juga di hari minggu. Pingsan? Entahlah, mungkin iya.

“Berapa lamakah saya pingsan?”

“Dua hari.”

Edward menepuk dahi, “Anda tahu, bagaimana berita iblis itu?”

Dokter tersebut menghentikan gerakannya, menelan ludah.

“Rupanya, saya sebagai ketua Nothing Demons ketinggalan informasi akhir-akhir ini.”Edward tertawa kecil.Dokter itu segera membereskan peralatan medisnya dengan wajah gugup. Dahinya berkeringat.

“Maaf, saya tidak tahu apa yang Anda bicarakan.” Jawabnya seraya  memasukkan stetoskop ke saku jas.

“Bagaimanakah Anda tidak tahu? Bukankah ini puncak kegencarannya?”

“Maaf, saya tidak tahu apapun. Sebaiknya Anda beristirahat. Permisi.”.Jawab sang dokter dengann nada ketakutan, penuh gemetar.Ynag membuat Edward bertanya-tanya.Yang membuat Edward semakin merasa aneh.

Dan memperhatikan dokter itu yang keluar ruang rawat inap dengan langkah cepat sembarri merapatkan syal di lehernya.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s